Gelar Rakor Khusus Terkait Isu Teror Harimau Sumatera

PAGARALAM – liputansumsel.com--- Warga Kota Pagaralam dan sekitarnya diharapkan  tidak terpancing dengan isu yang  belum jelas kebenarannya (hoax) terkait dengan  teror harimau Sumatera yang  saat ini marak beredar  dari mulut ke mulut atau malalui media sosial (medsos).


Harapan tersebut disampaikan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru ketika memimpin rapat koordinasi (Rakor)  terkait dengan penanganan hewan buas  khususnya harimau Sumatera yang berlangsung  di Rumah Dinas Walikota Pagaralam, Kamis (19/12) malam.


“Masyarakat tidak perlu takut yang berlebihan, tetaplah beraktivitas seperti biasa. Namun tetap waspada dan tidak boleh beraktivitas seorang diri.  Besok (Jumat, 20/12) pagi saya ajak seluruh masyarakat Pagaralam untuk ikut  dalam kegiatan sepeda santai. Ini merupakan salah satu bentuk kampanye kita  yang menandakan Kota Pagaralam aman untuk dikunjungi,” tegas Gubernur H. Herman Deru.


Dalam rakor yang  dihadiri juga oleh Kapolda Sumsel Irjen Pol Priyo Widyanto, Pangdam II Sriwijaya Mayor Jendral TNI Irwan, Anggota DPRD Provinsi Sumsel H Alfrenzi Panggarbesi, Rudi Hartono, Aswari Rifai, David Hardianto, Walikota Pagaralam Alpian Maskoni, Wakil Walikota Muhammad Fadli, Bupati Lahat Cik Ujang dan Wakil Bupati Lahat H Haryanto tersebut, Gubernur H.Heman Deru menegaskan pada dasarnya antara manusia dengan alam terjadi interaksi yang saling berkaitan. Demikian juga dengan warga yang bermukim di wilayah Kota Pagaralam, Kabupaten Lahat dan sekitarnya juga merupakan bagian dari alam itu senditi yang di dalamnya ada sejumlah  mahluk hidup lainnya dengan habitatnya masing-masing  salah satunya harimau.


“Manusia  itu sahabat alam, masyarakat pagaralam ini juga sahabat harimau, harimau tidak akan menyerang jika habitatnya tidak terganggu. Karena itu, masyarakat saya minta jangan sekali-kali mengganggu habitat harimau. Demikian juga dengan perusahaan, jika ada perusahaan yang merusak hutan atau alam saya akan berikan teguran langsung,” tegas Gubernur.


Gubernur menyebut berdasarkan  sejumlah fakta yang didapatnya dari laporan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel


, tidak bernar adanya isu ada tujuh  harimau Sumatera yang berkeliaran meneror warga. Apalagi  sampai berkelompok, sebab harimau lanjut Gubernur,  tidak  berjalan  secara berkelompok.


“Informasi  yang tidak benar ini sangat merugikan Kota Pagaralam.  Ini merupakan tantangan bagi pak Wali  Kota untuk menepis isu  negative tersebut menjadi isu yang  positif,” imbuhnya.


Lebih lanjut Herman Deru menegaskan, dirinya sudah menyampaikan laporan  kepada Kementerian Lingkungan Kehutanan dan Kehutanan (KLKH) RI, terkait dengan kasus harimau Sumatera yang sempat viral karena menyerang  beberapa warga hingga tewas beberapa waktu lalu.


"Masalah ini sudah saya sampaikan kepada buk Menteri,” terang Herman Deru.


            Bahkan lanjut Herman Deru dirinya juga telah bertannya secara langsung dengan warga yang bermukim disekitar hutan dikawasan Gunung Dempo, warga mengakui  tidak merasa resah dengan isu harimau menyerang manusia. Sebab berdasarkan pengakuan warga  tersebut lanjut Herman Deru, tidak ada sejarahnya masyarakat Kota Pagaralam  yang di serang harimau.


            “Harimau tidak pernah keluar habitatnya. Setiap kejadian pasti ada pemantik baik realtime maupun sebelumnya karena dendam memori dari sang harimau karena habitatnya terganggu. Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki ini semua dengan merestorasi hutan dan satwanya di lestarikan. Kedepan kita harus mencegah kerusakan hutan. Kita jaga alam maka alam akan menjaga kita. Kita akan terus merestorasi hutan habitat satwa yang ada di Sumsel,” tandas Herman Deru.


Sementara itu Ketua Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel, Genman Suhefti Hasibuan dalam rakor ini memaparkan ada di Indonesia ada tiga jenis  harimau  yakni Harimau Bali dan Harimau Jawa keduanya sudah punah. Kini tinggal lagi jenis Harimau Sumatera yang keberadaannya  terancam punah.


Saat ini lanjut, Genman Suhefti Hasibuan BKSDA Wilayah II Lahat telah melakukan upaya mengatasi isu harimau Sumatera, dengan melakukan sejumlah langkah diantarannya koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait dengan  keberadaan satwa liar yang  dilindungi.


“Kami juga laporkan hingga saat ini  sudah  ada lima orang yang menjadi korban,  tiga  meninggal dunia dan  dua orang lagi luka-luka yang cukup serius. Semuanya penyerangan terjadi di kawasan hutan lindung yang merupakan habitat harimau tersebut. Kita dari BKSDA sudah melakukan sejumlah langkah yakni sosialisasi dan koordinasi dengan pihak terkait,  mengunjungi rumah duka, pemasangan box trap di lokasi korban di serang, pemasangan himbauan di beberapa titik desa, pemasangan lima  kamera pemantau  disepanjang rute  yang sering dilewati harimau dan terus memantau keberadaan harimau,” tandasnya.


Dilain pihak, Pangdam II/Sriwijaya Mayor Jendral TNI Irwan meminta warga untuk  tidak mendekati apalagi mengganggu habitat harimau, dan tetap waspada serta  segera melapor kepada pamong atau aparat terdekat jika melihat  keberadaan harimau atau ada  kasus  manusia yang diserang harimau dengan segera untuk diberikan penanganan.


"Jika sumber makannya cukup dan habitatnya tidak terganggu, harimau sumatera tidak akan mengganggu manusia,” ujar Mayjen Irwan.


Senada dengan Pangdam,  Kapolda Sumsel Irjen Pol Priyo Widyanto meminta warga untuk waspada dan ikut membantu aparat dalam menangkal hoax atau berita-berita yang marak di medsos yang justru tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.


" Saya akan turunkan tim khusus  dari Polda Sumsel untuk menetralisir berita  hoax atau isu soal harimau di media sosial. Ini semua kita lakukan untuk ketentraman masyarakat di Sumatera Selatan,” tegas Kapolda Sumsel.  ) tim hms))

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.